1.033 Orang Meninggal dan Jutaan Rumah Hancur Akibat Banjir di Pakistan

  • Bagikan

Jakarta, KabarBerita.id — Ada sebanyak 1.033 orang tewas dan sekitar satu juta rumah hancur akibat banjir musiman yang terjadi di Pakistan. Angka korban tewas bertambah setelah petugas menemukan 119 orang dalam 24 jam terakhir.

badan nasional penanggulangan bencana Pakistan mengatakan lebih dari 2 juta hektar tanaman budidaya Musnah, 3.451 kilometer jalan hancur dan 149 jembatan hanyut.

Sementara itu para pejabat mengatakan pencet tahun ini berdampak kepada lebih dari 33 juta orang dan sekitar 1 juta rumah hancur.

Menanggapi bencana banjir tersebut, pemerintah Pakistan telah mengumumkan keadaan darurat dan mengarahkan militer untuk menangani apa yang disebut bencana skala epik.

terlepas dari data Ibas korban banjir pemerintah provinsi Sindh sedang bersiap menghadapi banjir susulan dari sungai bagian utara yang meluap.

Sungai Sindhu atau yang dikenal Sungai Indus mengalir melewati provinsi tersebut dan dialiri puluhan anak sungai pegunungan di utara. Namun banyak sungai yang meluap usai hujan deras dan gletser yang mencair.

Pihak berwenang memperingatkan aliran air diperkirakan akan mencapai Sindh dalam beberapa hari ke depan.

Ribuan orang yang tinggal di dekat sungai diperintahkan untuk mengungsi dari zona bahaya.

Banyak sungai di sekitar daerah itu meluap dan menghancurkan bangunan dan hotel.

Musim hujan di Pakistan kerap membawa kehancuran karena menyebabkan banjir bandang. Di sisi lain musim hujan ini padahal sangat penting untuk mengairi tanaman dan mengisi danau.

Banjir kali ini disebut setara dengan banjir pada 2010, yang tercatat sebagai terburuk dalam sejarah Pakistan. Di tahun itu, lebih dari 2.000 orang meninggal dan seperlima wilayah negara itu terendam air.

Sejumlah pejabat menyalahkan perubahan iklim yang disebabkan manusia. Mereka menganggap Pakistan menjadi korban dari praktik lingkungan yang tidak bertanggung jawab di tempat lain di dunia.

Namun, perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab banjir. Tindakan korupsi, perencanaan yang buruk serta pelanggaran peraturan lokal yang mendirikan bangunan di daerah rawan banjir juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *