Waspadai Risiko Kebutaan pada Bayi Prematur

  • Bagikan
bayi prematur
bayi prematur.

Kabarberita.id, Bayi yang dilahirkan secara prematur berisiko memiliki retina mata yang belum matang. Kondisi ini dapat membuat bayi prematur rentan terhadap ancaman kebutaan akibat Retinopathy of Prematurity (ROP).

ROP merupakan suatu kelainan perkembangan pembuluh darah retina di mana perkembangan pembuluh darah belum mencapai bagian tepi retina. Kondisi ini berpeluang menyebabkan terjadinya retina lepas yang berakibat pada kebutaan.
ROP terdiri atas lima stadium di mana stadium lima merupakan stadium terberat dengan risiko kebutaan. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, ROP bisa berkembang dan menyebabkan kebutaan hanya dalam waktu satu bulan.
Sayangnya, gejala-gejala ROP pada bayi prematur cukup sulit terdeteksi karena usia bayi yang masih sangat muda. Dari luar, tampilan mata bayi prematur yang mengalami ROP pun tak menunjukkan tanda-tanda khas.
“Orang tua tak bisa lihat (ada ROP atau tidak) karena matanya jernih-jernih saja. Tapi proses di dalam jalan terus,” ungkap pakar kesehatan mata anak dari RSCM Rita Sita Sitorus dalam rangkaian program Seeing is Believing bersama Standard Chartered Bank, di Jakarta.
Solusi paling efektif untuk mencegah kebutaan pada bayi prematur akibat ROP adalah deteksi dini atau skrining. Skrining perlu dilakukan pada bayi prematur yang dilahirkan dengan usia kehamilan 34 minggu, pada bayi yang memiliki berat badan lahir kurang dari 1.500 gra atau pada bayi dengan keadaan-keadaan lain yang dinilai berisiko mengalami ROP.
“Pada prinsipnya semua bayi prematur perlu skrining. Nanti dokter anak yang tentukan (perlu tidaknya skrining),” sambung Rita.
Skrining harus dilakukan sesegera mungkin setelah kondisi bayi prematur dinyatakan stabil. Skrining juga harus dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu sebelum usia 42 minggu pascakelahiran.
Prosedur skrining dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan penggunaan alat funduskopi indirek. Skrining juga bisa dilakukan dengan menggunakan kamera pencitraan retina digital. Skrining ini sebaiknya dilakukan secara berkala sampai retina dinyatakan sudah matang dan tak lagi memerlukan skrining lanjutan.
“Atau dapat dihentikan akibat sudah terjadi kondisi ROP yang memerlukan terapi,” terang Rita.
Terapi yang diberikan akan sangat bergantung pada hasil skrining dan kondisi retina bayi prematur. Beberapa macam terapi yang bisa dilakukan adalah observasi, terapi laser, injeksi obat ke dalam mata hingga virektomi atau pembedahan. Jika dilakukan dengan cepat dan tepat, terapi akan membantu bayi prematur untuk mendapatkan penglihatan yang optimal.
“Karena itu, harus sedini mungkin dideteksi,” kata Rita.
sumber : REPUBLIKA.CO.ID
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan