Krisis Akut di Sri Lanka, Perempuan Banting Setir Jadi Pekerja Seks

Jakarta, KabarBerita.id — Perempuan di Sri Lanka terpaksa menjadi pekerja seks komersial (PSK) demi bisa membeli makanan dan obat usai terancam kehilangan pekerjaan imbas krisis akut yang melanda negaranya.

Fenomena ini terkuak dalam investigasi media lokal Sri Lanka, The Morning. Mereka mewawancarai sejumlah buruh perempuan yang terpaksa menjadi pekerja seks demi menyambung hidup.

“Kami dengar kami akan kehilangan pekerjaan kami karena krisis ekonomi dan solusi yang terbaik yang bisa kami lihat saat ini adalah pekerja seks,” cerita salah satu perempuan Sri Lanka itu.

Gaji mereka dalam sebulan rata-rata 28 ribu rupee Sri Lanka atau sekitar Rp1,1 juta. Paling maksimal pendapatan mereka cuma mencapai 35 ribu rupee atau sekitar Rp1,4 juta. Itu pun kalau mengambil jam lembur.

“Namun, melalui pekerjaan yang melibatkan perdagangan seksual, [penghasilan] kami bisa mencapai 15 ribu rupee [atau sekitar Rp625] per hari. Tak semua orang sepakat dengan saya, tapi ini benar,” ujar buruh perempuan itu.

Warga Sri Lanka Tolak Wickremesinghe Menang: Dia Bukan Presiden Kami

Lebih jauh, ia menceritakan bahwa dirinya berasal dari desa dan menjadi satu-satunya penopang nafkah keluarga.

“Saya tak bisa pulang ke rumah, dan tanpa pekerjaan, saya tak bisa hidup. Saya tahu ada banyak orang yang mendapat uang dari pekerjaan seksual. Mereka tinggal di sebelah kos kami,” ujar dia.

Saat pertama kali perempuan itu mengetahui pekerjaan sampingan tetangga kosnya, ia betul-betul tak suka. Namun kini, ia melakoni hal serupa.

“Sekarang, saya tak merasa tak ada pilihan lain,” tuturnya.

Menurut laporan sebelumnya, jumlah perempuan yang tergabung dalam perdagangan seksual ini melonjak hingga sekitar 30 persen sejak Januari 2022.

Ashilla Dandeniya selaku Direktur Eksekutif Gerakan Sri Lanka Mandiri (SMUL), organisasi yang mengadvokasi pekerja seks komersial, mengatakan bahwa para PSK itu berasal dari berbagai desa di Sri Lanka.

Menurutnya, mayoritas dari para perempuan itu sebelumnya bekerja di pabrik garmen, tapi kini terancam kehilangan pekerjaan.

“[Mereka] putus asa memenuhi kebutuhan anak-anak, orang tua, atau bahkan kerabat mereka. Bekerja seks salah satu profesi yang tersisa di Sri Lanka yang memberi banyak uang dengan cepat,” ujarnya.

Dandeniya juga menyatakan bahwa sejumlah pabrik berkontribusi terhadap perdagangan seks, sebab upah yang melorot di industri tekstil.

“Perempuan ini hanya bekerja di industri garmen selama hidup mereka. Mereka tak mengikuti pelatihan profesi untuk menambah keahlian,” kata dia.

Keadaan semakin tak terkendali mengingat bahan bakar, harga makanan, dan kebutuhan lain melonjak tajam. Masa depan perempuan Sri Lanka pun semakin suram.

Ketika banyak perempuan Sri Lanka menjadi PSK, warga yang sebelumnya sudah menjadi pekerja seks komersial sendiri sebenarnya juga sengsara.

Salah satu PSK Sri Lanka mengatakan, sebelum krisis dia bisa mengantongi hingga 20 ribu rupee atau sekitar Rp834 ribu dalam sehari.

Namun, keadaan yang tak tentu di Sri Lanka membuat penghasilan dia hanya 300 ribu rupee atau sekitar Rp12 juta per minggu.

“Kami harus membayar taksi dan menghitung rata-rata karena bahan bakar melonjak. Kadang, kami merasa salah mengambil keputusan,” ujar dia.

“Kami menyerah pada pekerjaan kami dan kami sekarang tak bisa bertahan dengan keputusan yang sudah kami buat.”

Bagi para perempuan Sri Lanka, tak mungkin beralih ke sektor pertanian karena hasil panen saja turun hingga 50 persen pada 2021 lalu.

Selain itu, sebagian besar lahan pertanian di negara itu dibiarkan begitu saja usai eks presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, melarang impor pupuk kimia.

Tinggalkan Balasan