Berita  

PBB Temukan Bukti Baru Kejahatan Perang di Myanmar

Rakhine, KabarBerita.id — Penyidik PBB menemukan pasukan keamanan dan pemberontak Myanmar melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil. Temuan tersebut menjadi bukti kejahatan perang terbaru di daerah sebelah barat negara itu.

Pada pekan lalu, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan ada kemungkinan pasukan keamanan Myanmar melakukan pelanggaran hak asasi manusia saat pemerintah mematikan jaringan internet di Rakhine dan Chan. Tapi pekan ini ia mengatakan pelanggaran tersebut dilakukan sejak lama.

“Konflik dengan Pasukan Arakan di utara Negara Bagian Rakhine dan sebagian selatan Negara Bagian Chan berlanjut selama beberapa bulan terakhir dan dampaknya terhadap warga sipil sangat menghancurkan,” kata Lee seperti dilansir dari Voice of America, Rabu (3/7).

Dia menambahkan, banyak tindakan tatmadaw (tentara) dan Pasukan Arakan yang melanggar hukum kemanusiaan internasional dan sejumlah kejahatan perang, dan juga pelanggaran hak asasi manusia. Tindakan keras militer Myanmar ke Rakhine pada 2017 membuat 730 ribu orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Penyidik PBB mengatakan operasi militer Myanmar termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan massal, penjarahan dan eksekusi dengan niatan genosida.

Pemerintah Myanmar membantah melakukan segala tuduhan yang diajukan. Mereka mengatakan kampanye militer di seluruh penjuru Rakhine sebagai tanggapan atas serangan yang dilakukan milisi Rohingya.

Saat in,i pasukan pemerintah bertempur melawan pemberontak. Konflik tersebut menghancurkan Rakhine dan Chan. Pasukan Arakan adalah pemberontak yang menuntutu wilayah otonomi yang lebih luas lagi di dua negara bagian tersebut.

Pada 22 Juni, pihak berwenang meminta perusahaan telekomunikasi mematikan jaringan internet di Rakhine dan Chan. Telenor Group mengutip kementerian transportasi dan komunikasi yang mengatakan penggunaan aktivitas internet untuk mengkoordinasikan kegiatan ilegal dan mengganggu perdamaian.

Lee mengatakan pasukan Arakan dilaporkan menculik warga sipil, termasuk 12 pekerja konstruksi di Paletwa dan 52 penduduk desa di dekat perbatasan dengan Bangladesh. Mengutip laporan warga sipil, Lee menambahkan banyak laki-laki Rakhine yang ditahan dan diinterogasi tatmadaw karena diduga terlibat dengan Pasukan Arakan dan beberapa orang yang ditahan meninggal dunia di tahanan.

Tinggalkan Balasan