Berita  

WHO: Kegemukan Pada Anak-anak Remaja Meningkat 10 Kali Lipat

WHO Head-Quater in Geneva, Switzerland. Copyright : WHO/Pierre Virot
WHO Head-Quater in Geneva, Switzerland.
Copyright : WHO/Pierre Virot

JENEWA, Kabarberita.id – Populasi anak-anak dan remaja yang kegemukan telah naik 10 kali lipat dalam empat dasawarsa terakhir, demikian peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (11/10).

Kondisi tersebut telah menjadi krisis kesehatan global yang mengancam akan bertambah parah kecuali tindakan drastis dilakukan.

Dalam kesempatan Hari Kegemukan Dunia, WHO dan Imperial College London menyiarkan studi terkini mereka mengenai kegemukan pada anak-anak dan remaja di seluruh dunia, yang disiarkan di jurnal medis Lancet.

Badan kesehatan dunia tersebut menganalisis ukuran berat dan tinggi dari hampir 130 juta orang yang berusia di atas lima tahun –termasuk 31,5 juta yang berusia lima sampai 19 tahun dan 97,4 juta yang berusia 20 tahun dan lebih, sehingga menjadikannya jumlah peserta paling banyak yang pernah terlibat dalam studi epidemiologi.

Sementara itu, lebih dari 1.000 kontributor ikut dalam studi tersebut, yang meneliti indeks massa tubuh dan bagaimana kegemukan telah berubah di seluruh dunia dari 1975 sampai 2016.

Jumlah itu memperlihatkan bahwa angka kegemukan pada anak-anak dan remaja di dunia naik dari kurang satu persen, atau sebanyak lima juta anak perempuan dan enam juta anak lelaki, pada 1975 menjadi hampir enam persen anak perempuan (50 juta) dan hampir delapan persen anak lelaki (74 juta) pada 2016. Jika digabungkan, jumlah kegemukan pada anak yang berusia lima sampai 19 tahun naik lebih dari 10 kali lipat secara global, dari 11 juta pada 1975 jadi 124 juta pada 2016, demikian laporan Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Sementara itu, sebanyak 213 juta anak lagi kelebihan berat pada 2016 tapi berada jauh di bawah ambang bagi kegemukan.

“Kecenderungan yang mengkhawatirkan ini mencerminkan dampak dari pemasaran makanan dan kebijakan di seluruh dunia,” kata Profesor Majid Ezzati dari School of Public Health di Imperial College London, yang menjadi penulis utama studi tersebut.

Makanan bergizi yang sehat menjadi terlalu mahal buat masyarakat dan keluarga miskin, katanya. Ia mendesak ketersediaan lebih banyak makanan jenis itu di rumah dan sekolah, terutama pada masyarakat dan keluarga miskin.

Ezzati juga menyarankan agar peraturan dan pajak untuk melindungi anak-anak dari makanan tidak sehat diberlakukan, atau generasi masa depan anak-anak dan remaja yang tumbuh kegemukan akan menghadapi resiko lebih besar untuk terserang penyakit, seperti diabetes.

Studi tersebut meramalkan bahwa jika kecenderungan itu berlanjut, sampai 2020 angka kegemukan pada anak-anak dan remaja di seluruh dunia akan melampaui mereka anak yang kekurangan berat –baik secara sedang maupun parah– dari usia yang sama.

“Data ini menyoroti, mengingatkan dan kembali memperkuat bahwa kelebihan berat dan kegemukan adalah krisis kesehatan global hari ini, dan mengancam akan bertambah parah dalam beberapa tahun ke depan kecuali kita mulai melakukan tindakan drastis,” kata Dr. Fiona Bull, Koordinator Program bagi pengawasan dan pencegahan penyakit tak menular yang berlandaskan populasi di WHO.

Selain penyelesaian tersebut, WHO menyiarkan ringkasan dokumen Ending Childhood Obesity Implementation Plan, yang menawarkan kepada semua negara panduan jelas guna mencegah kegemukan pada anak-anak dan remaja.

Yang menempati posisi teratas dalam panduan WHO ialah peningkatan asupan makanan sehat dan keaktifan fisik, lalu diikuti oleh perawatan kehamilan dan prasangka, makanan dini masa anak-anak dan kegiatan fisik, kesehatan dan gizi buat anak usia sekolah, dan penanganan berat badan.

Secara khusus, semua negara mesti bertujuan “mengurangi konsumsi makanan murah yang diproses secara berlebihan, memiliki kalori yang berlebihan dan miskin gizi”, serta “waktu yang dihabiskan anak-anak pada kegiatan santai yang tak bergerak dan berlandaskan layar dengan mendorong keikut-sertaan yang lebih besar pada kegiatan fisik melalui olah raga dan rekreasi aktif,” kata Dr. Bull.

Tinggalkan Balasan