Wakaf Salman ITB Target Berdayakan 1000 Desa Tertinggal

  • Bagikan

Bandung, KabarBerita.id — Desa memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai penyangga ekonomi nasional, melainkan juga pembangunan ekonomi dunia yang berkelanjutan. Saat ini banyak sumber daya bisa dikelola oleh desa sendiri.

“Oleh karena itu, melalui program 1000 Desa ini, Wakaf Salman bercita-cita memberdayakan desa desa tertinggal di Jawa Barat,” ujar Direktur Wakaf Salman ITB M Khirzan Nazar Noe’man, akhir pekan ini.

Khirzan mengatakan, desa harus dapat menjadi salah satu kunci kekuatan ekonomi Indonesia dan sumber kesejahteraan bagi warganya.

Namun, kata dia, ditengah kemajuan teknologi yang kian berkembang, masih banyak desa-desa yang tertinggal. Salah satunya adalah desa Mekarmanik, desa yang terletak di kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung ini memiliki keterbatasan sanitasi yang cukup serius.

Pada Sabtu, (20/2) Wakaf Salman mengadakan acara virtual “1000 Desa Episode 1 – Sanitasi Desa Tertinggal Mekarmanik”.

“Acara ini merupakan rangkaian event rutin yang digelar Wakaf Salman dalam program memberdayakan 1000 Desa di tahun 2021 ini,” katanya.

Menurutnya, acara tersebut bertujuan memberikan informasi serta meninjau kondisi terkini dari beberapa lokasi di desa Mekarmanik yang memiliki sanitasi kurang baik. Virtual tour dihadiri oleh WASH Specialist UNICEF, Muhammad Zainal dan diikuti oleh 50 peserta dari berbagai perusahaan dan lembaga sosial.

Di dalam sesi virtual tour, aktor Ricky Perdana bersama Yayasan Odesa Indonesia memperlihatkan berbagai kondisi sanitasi di desa Mekarmanik, Kec, Cimenyan. Dari beberapa kampung, ada beberapa fasilitas sanitasi yang kurang layak untuk digunakan oleh masyarakat.

“Mari bantu wujudkan kemajuan masyarakat melalui pemberdayaan 1000 desa,” katanya.

Sementara menurut WASH Specialist UNICEF, Muhammad Zainal, di Indonesia sekitar 50 persen desa yang ada di pulau jawa sanitasinya sangat memperihatinkan.

“Faktanya seprti itu sekian puluh tahun merdeka tapi angka buang air besar sembarangan nya kita di no 2. India saja sekarang sudah layak,” katanya.

Untuk menjadikan desa-desa di pulau Jawa sanitasinya bersih, Zainal mengaku terkendala biaya karena adanya gap pembiayaan. “Yang bisa dilakukan adalah membangun kolaborasi pembiayaan bersama karena anggran terbatas,” katanya.

Jadi, kata dia, program ini butuh kemitraan bersama untuk mendorong program sanitasi dan mengelola sanitasi secara benar. “Ini fakta kebutuhan mendasar dari program pemberdayaan 1000 desa adalah sanitasi yang bersih,” katanya.

Indonesia, kata dia, menargetkan pada 2024 eliminasi Buang air besar sembarangan. Tp ini akan berhasil kalau setiap individu, Unicef, global muslim filantropi, potensi pembiayaan dari lembaga sosial islam bisa bekerja sama.

“Kita kan muslimnya sangat besar jadi harus mendukung program sanitasi ini. Memang harus melibatkan masyarakat lebih banyak lagi. Karena ini dampaknya ke anak-anak juga,” katanya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan