Sudah Divaksin, Mengapa Kumpul-Kumpul Tetap tak Aman?

  • Bagikan

Jakarta, KabarBerita.id — Berbagai negara, seperti Amerika Serikat dan Indonesia, telah memulai vaksinasi Covid-19. Di AS banyak pekerja medis dan staf di fasilitas kesehatan yang telah menerima vaksin dari Pfizer-BioNTech dan yang dikembangkan Moderna.

Di Indonesia, program vaksinasi massal telah dimulai sejak Rabu (13/1) pagi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi pertama di Indonesia yang divaksin Covid-19 dengan menggunakan satu-satunya vaksin yang tersedia saat ini, yakni CoronaVax yang dikembangkan Sinovac.

Hari itu, selebritas Raffi Ahmad juga turut berada dalam daftar orang yang paling dulu divaksin. Hanya saja, malam harinya, ia kedapatan menghadiri pesta dan berfoto tanpa mengenakan masker.

Baik vaksin Pfizer dan Moderna memerlukan dua dosis suntikan, untuk mencapai klaim kemanjuran 90 persen dalam mencegah infeksi bergejala dari virus. Perlu diperhatikan kata kuncinya di sana hanya “infeksi bergejala”.

Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan, vaksin CoronaVac menunjukkan kemampuan pembentukan antibodi di dalam tubuh dan antibodi tersebut dapat menetralkan virus. CoronaVax memiliki efikasi 65,3 persen.

Dosis kedua CoronaVax harus diberikan 14 hari setelah penyuntikan pertama. Nantinya, Indonesia juga akan memakai vaksin Moderna, Pfizer-BioNTech, Sinopharm, AstraZeneca, dan tentunya PT Bio Farma (Persero).

“Kami belum tahu tentang penyebaran infeksi tanpa gejala (setelah vaksinasi). Studi sedang dilakukan dan saya kira, kita akan tahu jawabannya dalam beberapa bulan ke depan,” kata kepala petugas medis dari situs web perawatan kesehatan WebMD, John Whyte, seperti dikutip dari Fox News pada Kamis (14/1).

Meskipun Pfizer dan Moderna menyatakan bahwa vaksin mereka 95 persen efektif dalam mencegah seseorang terkena gejala Covid-19, hingga saat ini tidak banyak bukti apakah vaksin ini akan menghentikan infeksi dan penularan Covid-19 tanpa gejala. Ini penting diwaspadai, mengingat penularan virus dari orang yang tak bergejala menyumbang lebih dari setengah kasus Covid-19.

Untuk Moderna, data uji klinis fase 3 yang telah ditinjau sejawat, yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa vaksin mengurangi sekitar dua pertiga infeksi tanpa gejala. Tetapi, menurut peneliti, data tersebut masih sangat kecil.

“Data tidak cukup untuk menilai infeksi tanpa gejala, meskipun analisis eksplorasi awal menunjukkan bahwa beberapa tingkat pencegahan dapat diterima setelah dosis pertama,” demikian kata Moderna.

Karenanya, Whyte mengimbau agar penerima vaksin tidak kemudian merasa bebas menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman yang belum divaksin. Ini semua tentang mengelola risiko.

“Seminggu setelah dosis kedua, risiko Anda terkena gejala infeksi sangat rendah. Jadi, jika Anda mengunjungi mereka yang belum divaksin, tetaplah pakai masker dan menjaga jarak sosial. Jangan juga berkunjung lama-lama, sebab masih ada risiko terpapar bagi seseorang yang tidak divaksin,” kata Whyte.

“Itulah sebabnya menurut kami, pemerintah perlu memvaksinasi sebanyak mungkin orang dan secepat mungkin,” kata dia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *