Refly Harun Tangkap Gelisah Cak Nun soal Turunkan Presiden

  • Bagikan

Jakarta, KabarBerita.id — Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun ikut mengomentari pernyataan Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengenai upaya menurunkan presiden jika Indonesia sudah berada dalam situasi yang darurat. Cak Nun bicara demikian pada 2018 lalu.
Refly menilai pernyataan Cak Nun itu jelas mengandung kritik yang dilandasi kekecewaan, sehingga sampai berani bicara ihwal upaya menurunkan presiden yang berkuasa.

“Jadi, saya pahami, sebagai intelektual, sebagai budayawan, Cak Nun sepertinya menyimpan sebuah kegalauan, sebuah kegelisahan, mungkin juga kemarahan terhadap pemerintahan sekarang ini,” kata Refly lewat kanal Youtube Refly Harun, sebagaimana dikutip Rabu (17/2).

Refly menduga Cak Nun tidak puas dengan jalannya pemerintahan saat melontarkan pernyataan tersebut. Atas dasar itulah, kata Refly, Cak Nun melontarkan kritik dan bicara soal menurunkan presiden.

“Mungkin, menurut dia, dia tidak puas dengan sistem atas pemerintahan yang sedang berjalan,” ujarnya.

Dalam sebuah rekaman video di kanal Youtube Naila Al Hasna yang diunggah pada 15 Januari 2018, Cak Nun mengaku bakal menurunkan presiden yang berkuasa jika keadaan sudah darurat.

Mulanya, Cak Nun menjelaskan dirinya mencintai Indonesia. Namun, saat itu, Cak Nun menganalogikan hubungan cinta yang pasang surut, bak seseorang yang sedang ‘ngambek’ dengan pasangannya.

“Sebenarnya saya mulai tahun ’98 ngambek berat, sakit hati luar biasa, tapi aku tetap cinta,” kata Cak Nun dalam rekaman video tersebut.

Cak Nun kemudian mengaku bahwa dirinya termasuk orang yang ikut menurunkan Presiden Soeharto pada tahun 1998. Bukan tidak mungkin dirinya akan kembali melakukan hal tersebut jika Indonesia dalam keadaan darurat.

“Saya ingin melakukan itu lagi pada suatu hari. Kalau sudah darurat saya akan turunkan (presiden) lagi,” ujar Cak Nun.

Saat 1998 lalu, Cak Nun mengaku kecewa dengan gerakan reformasi yang pada akhirnya menurunkan Soeharto saat itu. Ia mengatakan Indonesia malah lebih rusak justru setelah memasuki era reformasi.

“Saya tidak berpolitik, tidak cari jabatan juga, tapi saya serius nurunin Soeharto. Ternyata bukan reformasi yang terjadi. Sekarang lebih rusak dari jaman Pak Harto. Kalau mau ngomong terus terang,” kata dia.

“Sama NKRI hari ini saya enggak setuju, presidennya enggak setuju, sistemnya enggak setuju. Aslinya lho ini, but I love you,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya membuat sejumlah teori atau gambaran ideal untuk memajukan sebuah negara. Namun, ia lebih memilih diam dan tidak mengusung gagasan tersebut.

“Saya punya teori macam-macam, banyak sekali. Tapi karena Indonesia enggak butuh saya, ya saya diam saja. But I love you, dari jauh aku tetap mencintaimu,” ungkapnya.

Terkait pernyataan Cak Nun tersebut, sudah berupaya meminta tanggapan pihak Istana Kepresidenan, termasuk Juru Bicara Presiden Joko Widodo, Fadjroel Rachman. Namun demikian, sampai berita ini ditulis, Fadjroel tidak merespons pertanyaan tersebut.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan