Presiden Lebanon Ingin Ubah Negara Jadi Sekuler

Beirut, KabarBerita.id — Presiden Libanon Michel Aoun menyebut pentingnya mengubah sistem di negaranya sebagai bagian dari agenda reformasi. Ia pun mengusulkan proklamasi negaranya sebagai negara sekuler serta dialog untuk amendemen konstitusi.

“Saya menyerukan proklamasi Libanon sebagai negara sekuler,” kata Aoun, dalam pidato menyambut peringatan 100 tahun negara Libanon, dikutip dari AFP, Senin (31/8).

Diketahui, Libanon sempat diguncang ledakan besar di pelabuhan Beirut. Ini dipicu oleh tumpukan amonium nitrat dalam jumlah besar yang dibiarkan tersimpan bertahun-tahun di gudang di pelabuhan.

Insiden ini memaksa pemerintah mengundurkan diri pada 10 Agustus. Sejumlah negara, termasuk AS dan Prancis, pun mendesak perubahan politik di Libanon.

Aoun mengatakan sistem negara sekuler adalah satu-satunya cara “untuk melindungi dan melestarikan pluralisme” serta menciptakan persatuan yang nyata.

“Pemuda Libanon menyerukan perubahan, untuk mereka, dan untuk masa depan mereka,” kata presiden berusia 85 tahun itu, yang sejak lama dituding tak mendengarkan kaum muda.

“Saya katakan, ya, waktunya telah tiba,” kata dia, “Ada kebutuhan untuk mengembangkan, memodifikasi, mengubah sistem. Sebut saja sesuka Anda, tetapi Libanon pasti perlu menjalankan urusannya dengan cara baru”.

Aoun mengaku akan menyerukan dialog termasuk dengan otoritas agama dan pemimpin politik untuk mencapai “formula yang diterima oleh semua orang dan yang akan diwujudkan dalam amandemen konstitusi yang layak”.

Dia akan menerima perwakilan dari blok parlemen dan anggota parlemen independen pada Senin (31/8) untuk memulai konsultasi menuju penunjukan perdana menteri baru setelah pemerintah mengundurkan diri menyusul ledakan Beirut.

Diketahui, model pemerintahan Lebanon saat ini adalah persetujuan Taef tahun 1989 yang mengakhiri perang saudara 1975-1990. Sistem politiknya disebut sebagai konfesionalisme, yakni pembagian kekuasaan antara aliran-aliran agama yang berbeda.

Mereka mengakui 18 sekte agama resmi dan 128 kursi parlemennya pun dibagi rata antara Muslim dan Kristen. Negara inipun tak pernah sepi dari pergolakan politik berbasis sektarian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here