Prancis Akan Buka Kembali Perbatasan Inggris dengan Syarat

Jakarta, KabarBerita.id — Prancis akan mengizinkan kembali perjalanan pribadi maupun ribuan truk pengangkut barang dari Inggris. Perbatasan antara kedua negara akan dibuka pada Rabu (23/12).
Kantor Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengatakan warga negara Prancis dapat kembali ke negaranya dari Inggris, jika mereka bisa menunjukkan bukti tes Covid-19 negatif.

Begitu pula warga negara lain yang tinggal di Prancis atau Uni Eropa juga dapat masuk ke Prancis dari Inggris dengan hasil tes negatif.

Sementara, prosedur khusus untuk melanjutkan lalu lintas angkutan barang akan dirinci dalam beberapa waktu mendatang.

Pengaturan ini akan berlaku hingga setidaknya 6 Januari, kecuali jika ada tinjauan bilateral atau Eropa pada saat itu.

“Pesawat, kapal, dan Eurostar akan melanjutkan layanan besok pagi. Warga negara Prancis, penduduk di Prancis, dan mereka yang memiliki alasan yang sah harus menunjukkan hasil tes yang negatif,” kata Menteri Transportasi Prancis Jean-Baptiste Djebbari di Twitter, pada Selasa (22/12).

Prancis termasuk di antara negara-negara yang menutup perbatasan mereka dengan Inggris selama akhir pekan lalu. Sejumlah negara khawatir akan penyebaran varian virus corona yang berpotensi lebih cepat menular.

Penutupan Prancis dari Inggris adalah yang paling signifikan, karena hal itu juga membatasi masuknya kargo.

Pada Selasa, hampir 3.000 truk terlantar di Inggris. Sementara itu, supermarket Inggris memperingatkan tentang kekurangan beberapa barang, beberapa hari jelang Natal.

“Kemajuan yang baik hari ini dan kesepakatan dengan Pemerintah Prancis tentang perbatasan. Kami akan memberikan pembaruan tentang pengangkut malam ini, tetapi pengangkut tetap tidak harus melakukan perjalanan ke Kent malam ini,” kata Sekretaris Transportasi Inggris Grant Shapps di Twitter.

Sejumlah negara di Eropa telah memberlakukan larangan perjalanan dari dan ke Inggris.

Larangan ini diberlakukan terkait dengan pengumuman penyebaran varian baru mutasi virus corona di negara itu yang disebut 70 persen lebih cepat menular, seperti disampaikan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Sabtu (19/12).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here