Pecat Ratusan Karyawan, GoPro Diambang Bangkrut

JAKARTA, Kabarberita.id – Perusahaan produsen kamera aksi, GoPro diketahui sedang terpuruk dengan menurunnya nilai saham yang berujung pada pemecatan ratusan karyawan.

Mengutip halaman Forbes, Rabu (31/1/2018), dalam kurun waktu 12 bulan GoPro telah kehilangan seperlima nilai perusahaannya.

Kemudian di awal Januari 2018 ini, GoPro memproses pemecatan 200 hingga 300 orang karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan yang disebut untuk menyesuaikan sumber dayanya dalam kebutuhan berbisnis.

Selain itu pada akhir 2016 lalu, perusahaan juga pernah memecat sebanyak 100 orang karyawan di divisi entertainment, disusul pemecatan sebanyak 270 orang pada 2017.

Kekacauan di bisnis GoPro dimulai saat terdapat masalah pada produk drone Karma. Pesawat tanpa awak itu mengalami masalah saat terbang hingga berujung pada penarikan produk. Saat itu GoPro mengungkap bahwa masalah berasal dari baterai yang membuatnya tiba-tiba mati dan jatuh ke tanah.

Akibatnya, penjualan GoPro Karma sempat tertunda dan kembali penjualanya pada Februari 2017. Usai penjualan keduanya, drone Karma memang sempat memberikan angin segar kepada GoPro, namun itu tak berlangsung lama. Pasalnya, muncul pesaing dari DJI, yang mengeluarkan drone Mavick Pro dan Spark.

Imbasnya tak hanya dirasakan oleh karyawan. Pasalnya sang CEO GoPro, Nick Woodman, juga ikut terkena getahnya. Orang nomor satu di perusahaan itu bahkan digaji kecil.

Forbes mengungkap bahwa Woodman mengaku mendapatkan gaji sebesar US$ 1 atau Rp 13.500 (kurs Rp 13.500/US$) di tahun 2018. Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai pejabat eksekutif dengan bayaran gaji tertinggi di Amerika Serikat.

Sebelumnya pada 2016, gaji Woodman diketahui mencapai US$ 800.000 atau Rp 10,8 miliar (kurs Rp 13.500) dengan tambahan US$ 300.000 (Rp 4 miliar) dari bonus performa.

Menurut laporan CNN Money, Woodman sempat dinobatkan sebagai pejabat eksekutif perusahaan dengan gaji tertinggi di Amerika Serikat. Pada akhir 2014, Woodman menerima saham terbatas bernilai US$ 248,5 juta. Saat itu nilai perusahaan GoPro dalam tren positif di angka US$ 6 miliar.

Akibat krisis di tubuh GoPro, Woodman bahkan sampai terdepak dari daftar orang terkaya versi Forbes dengan kekayaan saat itu sebesar US$ 1 miliar atau Rp 13,5 triliun (kurs Rp 13.500). Kekayaanya sempat turun dari US$ 1,75 miliar dari 2015.

Woodman pertama kali masuk dalam daftar orang terkaya Forbes pada 2013. Saat itu kekayaannya mencapa US$ 1,3 miliar. Namun seiring penurunan saham GoPro belakangan ini, kekayaan Woodman turut menyusut. Hingga sampai saat ini, Woodman tak lagi masuk dalam daftar tersebut.

Menurut halaman Wealthy Gorilla, kekayaan terkini Nick Woodman sebesar US$ 990 juta atau sekitar Rp 13 triliun, turun hampir US$ 2 miliar dari beberapa tahun lalu.

GoPro pertama kali didirikan oleh Nick Woodman pada 2002. Inspirasi pembuatan kamera GoPro berawal dari hobi olahraga berselancar.

Mengutip halaman Forbes, tepatnya pada 2001 ia membayangkan memiliki kamera yang bisa merekam kegiatan berselancarnya namun dengan ukuran yang lebih praktis.

Ia kemudian membuat model kamera pertamanya yang digunakan untuk merekam kegiatan berselancar di Australia dan Indonesia. Setelah itu ia terpikirkan untuk membuatnya dalam skala besar.

Usaha berjualan kamera aksi yang dilakukan Woodman akhirnya berbuah manis. Pada 2012, IDC melaporkan GoPro menguasai 21,5% populasi kamera perekaman digital di seluruh dunia.

Tapi hal itu tinggal kenangan. Saat ini GoPro tengah menantikan calon pembeli yang mau menyelamatkan bisnisnya. GoPo meminta bantuan kepada JPMorgan untuk menemukan calon pembeli. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here