Kematian Covid di Jatim Tinggi, Ini Penyebabnya Menurut Ahli

Petugas medis berpose usai melaksanakan tes swab COVID-19 di Stasiun Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2020).

Surabaya, KabarBerita.id — Kasus kematian akibat infeksi virus corona (Covid-19) di Jawa Timur (Jatim) kian tinggi. Jumlahnya bahkan melebihi angka pasien meninggal dunia di DKI Jakarta.

Pakar epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Windhu Purnomo mengungkap beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian di Jatim berjumlah banyak dibanding provinsi lainnya.

Faktor pertama, yakni tingginya jumlah pasien positif Covid-19 yang berasal dari kategori risiko tinggi, yakni pasien lansia, pasien balita dan pasien yang memiliki penyakit bawaan lainnya atau komorbid.

“Satu kemungkinan memang proporsi (pasien risiko tinggi) di Jatim tertinggi dibanding provinsi lain. Jadi proporsi yang positif Covid-19 (yang meninggal) adalah mereka yang lansia plus yang punya komorbid dan anak-anak,” kata Windhu, Sabtu (13/6).

Sayangnya Windhu tak memberikan data detail terkait berapa pasien positif Covid-19 yang meninggal, dari kelompok usia rentan dan memiliki penyakit sertaan.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, Laporan Media Harian Covid-19 Tanggal 13 Juni 2020 Pukul 12.00 WIB, Jatim masih menajdi provinsi dengan angka kematian akibat corona tertinggi secara nasional.

Tercatat angka kematian di Jatim mencapai 589 kasus, bertambah 14 orang dari angka sebelumnya yang sebanyak 575. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan angka kematian di DKI Jakarta sebanyak 548 orang, yang bertambah 8 orang dari angka sebelumnya yakni 540.

Faktor yang kedua, kata Windhu adalah kapasitas bed isolasi rumah sakit yang tidak sebanding dengan pertambahan pasien terkonfirmasi Covid-19. Rumah sakit di Jatim, terutama Kota Surabaya disebut telah over capacity.

“Kedua hilir yang tidak siap. hilir itu rumah sakit. Artinya perawatan tidak optimum karena memang kenyataannyah bed di rumah sakit rujukan itu over capacity,” katanya.

Ia menuturkan, karena kapasitas yang penuh, tak jarang pasien bergejala sedang ataupun berat tidak bisa lagi tertampung dan dirawat di rumah sakit rujukan.

“Contoh ada 20 pasien positif (corona) gejala sedang dan berat tapi tidak bisa masuk rumah sakit. Lah berarti kan 20 orang ini risiko tinggi meninggal,” ucapnya.

Windhu mengatakan, sejumlah rumah sakit di Jatim khusunya Surabaya mengalami kelebihan kapasitas, lantaran angka pertambahan pasien positif juga sangat tinggi.

“Jadi artinya penularan di Jatim terutama Surabaya terlalu tinggi karena tidak semua pasien tertampung. Itu yang menyebabkan besarnya kematian,” ujarnya.

Idealnya, kata Windhu, setiap rumah sakit rujukan haruslag menyediakan bed isolasi yang jumlahnya lebih banyak dari pasien yang diperkirakan.

“Harusnya persediannya 1,2 persen. Jadi kalau yang akan dirawat 100 bednya harus 120. Lah ini tidak, yang dirawat 100 tapi yang dipunya punya 80 persen dari itu. Artinya tidak akan cukup,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here