Indonesia Dinilai Belum Serius Kembangkan Energi Baru Terbarukan

Jakarta, Kabarberita.id – Indonesia dinilai belum serius dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), salah satunya terlihat dari masih dominannya penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara.

“Target pemerintah terlalu tinggi, namun tidak sesuai dengan pelaksanaan. Ini dapat dilihat dengan masih dominannya penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara. Padahal seharusnya kebijakan pemerintah berorientasi pada ‘clean energy’ yang meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil,” ujar Manajer Program untuk Akses Energi Berkelanjutan Institute for Essential Services Reform (IESR) Marlistya Citraningrum di Jakarta, Rabu.

Ia menyayangkan pemerintah yang tidak mencapai target dalam pengembangan EBT.

Menurut perempuan yang akrab disapa Citra itu, saat ini harga perangkat EBT masih mahal, meski seiring berjalannya waktu harga tersebut akan turun.

“Jika biaya perangkat EBT sudah terjangkau, masyarakat dapat memilih untuk menggunakan energi jenis apa, tanpa bergantung ke pemerintah. Sayangnya, investasi yang kecil di sektor ini menjadi penyebab kemandekan pengembangan energi terbarukan. Investor menilai investasi di sektor energi terbarukan penuh dengan resiko. Akibatnya harga perangkat EBT masih mahal sampai saat ini,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Teknik dan BD Waskita Karya Energi Hokkop Situngkir mengatakan EBT saat ini berkembang lambat karena beberapa faktor.

“Ada faktor regulasi, yaitu pemerintah, khususnya bidang terkait masih belum konsisten dalam menerapkan peraturan soal EBT sehingga menyulitkan investor. Yang kedua adalah faktor infrastruktur, di mana belum ada fasilitas yang menyambungkan energi dari sumber, biasanya terletak di ‘remote area’ ke konsumen,” katanya.

Selain itu faktor selanjutnya adalah masyarakat belum menganggap EBT sebagai hal penting di masa depan, kata Hokkop yang juga merupakan Ketua Bidang Natural Resources Inovator 4.0 Indonesia.

Hokkop menjelaskan bahwa Waskita Karya juga fokus pada pengembangan EBT, antara lain dengan membangun pembangkit listrik dari sumber energi baru terbarukan.

“Pada dasarnya, untuk konsep dan teknologi, kita sudah siap mengembangkan EBT yang sangat besar potensinya dalam melahirkan lapangan kerja baru. Salah satu yang perlu dijadikan referensi adalah pada beberapa negara maju, industri manufaktur mendukung pengembangan EBT. Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan EBT,” katanya.

Direktur Eksekutif Rumah Milenial Defli Yuandika Ruso menjelaskan pentingnya generasi milenial membahas energi baru terbarukan.

“EBT adalah kepentingan milenial karena ketersediaan energi di masa mendatang akan mempengaruhi kualitas hidup generasi pada masa tersebut. Perbandingan antara peningkatan produksi energi, jumlah penduduk, dan kebutuhan energi yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadi keresahan kami sebagai milenial,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here