Gemar Bersepeda? Waspadai Cyclist’s Palsy

  • Bagikan

Jakarta, KabarBerita.id — Bersepeda tak hanya menjadi kegiatan yang seru dan menyenangkan, tetapi juga menyehatkan bagi tubuh. Akan tetapi, posisi tubuh yang salah saat bersepeda dapat memicu terjadinya masalah. Salah satunya adalah cyclist’s palsy.

Saat dan setelah bersepeda, sebagian orang mungkin pernah mengalami perasaan tidak nyaman pada jari manis dan kelingking mereka. Kondisi ini biasanya terjadi karena ulnar nerve tertekan akibat terlalu lama berpegangan pada handle bar.

Ulnar nerve adalah saraf yang mempersarafi kelinging dan jari manis, serta melewati pergelangan tangan melalui sebuah terowongan bernama Guyon canal. Oleh karena itu, kondisi tak nyaman ini juga dikenal sebagai Guyon canal syndrome. Bila terjadi pada pesepeda, maka kondisi ini disebut sebagai cyclist’s palsy.

Cyclist’s palsy seringkali disamakan dengan carpal tunnel syndrome (CTS). Padahal, keduanya kondisi ini memiliki perbedaan. CTS terjadi pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis, sedangkan cyclist’s palsy hanya berdampak apda jari manis dan kelingking saja.

Gejala cyclist’s palsy juga spesifik terjadi pada saat atau setelah bersepeda. Gejala yang mungkin dirasakan adalah kebas, kesemutan, nyeri, kram, atau kelemahan pada kedua jari. Gejala-gejala ini dapat membuat kekuatan genggaman menjadi lemah.

“Gejala ini pun akan berbeda-beda pada setiap orang, tergantung tingkat keparahannya,” timpal dokter spesialis bedah ortopedi konsultan hand & microsurgery yang berpraktik di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya dr Oryza Satria SpOT(K) dalam pejelasan yang diberikan melalui surel, Selasa (16/2).

Dr Oryza mencontohkan, gejala sensorik seperti kesemutan dan mati rasa pada jari manis dan jari kelingking mudah hilang dalam 1-2 hari setelah bersepeda. Akan tetapi, gejala motorik yang terjadi bisa cukup menyulitkan.

Beberapa contoh gejala motorik itu adalah jari kelingking dan jari manis yang sulit diluruskan, massa otot di antara ibu jari dan telunjuk terlihat kempes, serta kesultian melebarkan dan menutup jari-jari. Bahkan, lanjut dr Oryza, bisa sampai menimbulkan cedera berat dan ada abnormalitas.

“Penyebab seseorang mengalami cyclist’s palsy saat atau setelah bersepeda bermacam-macam,” pungkas dr Oryza.

Sebagian di antarnaya adalah tekanan terlalu besar atua lama pada tangan sehingga mengambat aliran darah kesaraf ulnaris, posisi pergelangan tangan yang ekstensi, kurangnya kekuatan otot inti dan kelelahan sehingga sebagian besar ditumpukan pada tangan saat bersepeda, hingga penggunaan sarung tangan atau bantalan yang sudah tipis atau rusak.

Oleh karena itu, penting bagi pesepeda untuk memperhatikan postur dan posisi tubuh dengan baik. Posisi yang terjaga dengan baik dapat mencegah risiko cedera.

Untuk menghindari risiko cyclist’s palsy, pesepeda juga perlu memperhatiakn posis tangan dengan seksama. Tekuk sedikit siku dan usahakan telapak tangan menggenggam handle bar atau rem sekalgus. Posisikan bahu mengikuti alur yang dibentuk tangan dan punggung.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan