Gagasan Agar BI Cetak Uang Dinilai Bahayakan Stabilitas Harga dan Daya Beli Rupiah

Gagasan Agar BI Cetak Uang Dinilai Bahayakan Stabilitas Harga dan Daya Beli Rupiah

KabarBerita.id – Anggota Komisi XI DPR RI, Ecky Awal Mucharam, menyatakan bahwa gagasan agar Bank Indonesia (BI), mencetak uang guna penanganan krisis ekonomi, akan membahayakan stabilitas harga dan nilai riil (daya beli) rupiah.

“Mencetak uang tanpa underlying, bisa memicu inflasi yang sangat tinggi. Kalau sudah demikian, maka akan memukul daya beli rakyat,” tuturnya.

“Jadi, usulan beberapa orang untuk mencetak uang hingga Rp600 triliun, pada akhirnya akan menjadi beban bagi rakyat keseluruhan,” sambung Ecky.

“Rakyat banyak yang harus membayar, yang menikmati hanya segelintir orang atau kelompok. Ini berbahaya,” tegasnya, Jumat (1/5).

Legislator ini menyatakan, bahwa ‘Kebijakan Quantitative Easing (QE)’, sebagaimana dijelaskan dan dilakukan BI saat ini, pelonggaran likuiditas melalui beberapa instrumen moneter yang dimiliki, yakni:

  • Pembelian SBN di pasar sekunder yang dilepas oleh investor,
  • Pelonggaran rasio GWM, dan
  • Penyediaan likuiditas perbankan melalui mekanisme repo, telah berada pada koridor yang tepat.

Lebih lanjut Ecky menekankan, jika BI mencetak uang saat krisis, justru akan berdampak negatif pada perekonomian, hingga berpotensi menjadi penyebab krisis ekonomi baru.

Seperti halnya yang terjadi pada tahun 1998 dan 1965, di mana daya beli rupiah, terjun bebas karena hyper inflasi.

Dampak lanjutannya akan terlihat pada penurunan daya beli rakyat, karena harga-harga kebutuhan pokok tak lagi terjangkau.

Sementara pencetakan uang di negara-negara maju seperti AS dan Uni Eropa, lanjut Ecky, tidak berdampak signifikan bagi inflasi, karena Dollar dan Euro, di-pegang dan menjadi mata uang dunia, serta bagian penting SDR.

“Jadi kondisinya sangat berbeda dengan kita,” tegas Ecky.

Dalam Rapat Kerja dengan Menteri Keuangan, Gubernur BI, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Ketua OJK, Kamis (30/4) kemarin, Anggota DPR dari Dapil Jabar ini, juga menyampaikan bahwa:

“Jangan sampai isu mencetak uang ini menjadi kepanikan baru, bisa-bisa dengan isu mencetak uang tersebut, para pemilik simpanan, nasabah kakap dana pihak ketiga (DPK) di bank, melakukan aksi rush dan menukarnya dengan US Dollar,” imbau Ecky.

“Kalau itu terjadi, likuiditas bank tergerus, dan harga dolar AS melambung. Itu krisis keuangan dan ekonomi baru,” sambungnya.

Di akhir, Ecky, mengajak tiga persen penduduk Indonesia terkaya, yang menguasai kekayaan dan simpanan—baik di dalam negeri dan luar negeri—untuk membuktikan nasionalisme dan kecintaannya kepada negara, dengan menarik dana yang ada di luar negeri.

“Ayo, tarik dana dan aset Anda yang ada di Luar Negeri, dan bawa ke Indonesia, dan jangan larikan aset dan dana Anda di Indonesia, ke Luar Negeri,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here