Faisal Basri Desak Indonesia Kecam Presiden Prancis

Jakarta, KabarBerita.id — Ekonom senior Faisal Basri mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap terkait Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengaku tidak akan melarang penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Faisal sendiri mengutuk sikap Macron tersebut dan berharap mengucapkan permintaan maaf kepada umat muslim.

“Saya mengutuk Presiden Prancis. Mendesak pemerintah Indonesia segera bersikap yang sama dan meminta maaf kepada ummat Islam,” kata Faisal lewat akun Twitter pribadinya, Senin (26/10).

Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi sorotan dunia lantaran. Dia dikecam oleh banyak pihak karena dinilai menghina Islam.

Polemik bermula sejak awal Oktober lalu. Kala itu Macron menyampaikan hal tentang ancaman kelompok radikal muslim di negaranya.

Dia menyebut kelompok radikal Islam bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme yang telah lama diterapkan di Prancis.

“Ada kelompok radikal Islam, sebuah organisasi yang mempunyai metode untuk menentang hukum Republik dan menciptakan masyarakat secara paralel untuk membangun nilai-nilai yang lain,” kata Macron saat itu.

Tak lama setelah Macron bicara demikian, seorang guru sejarah, Samuel Paty (47) dipenggal di daerah Eragny pada 16 Oktober. Pelakunya adalah pemuda dari Chcenya bernama Abdoullakh Abouyezidovitch (18).

Samuel Paty, sebelum dibunuh, sempat membahas kartun Nabi Muhammad S.A.W. yang kemudian menuai kontroversi. Sejak awal dia sudah mengizinkan sejumlah pelajar Muslim untuk keluar kelas jika tidak sepakat dengan materi yang dia bahas.

Macron lantas mendatangi lokasi pembunuhan. Dia menyatakan pelaku adalah seorang radikal Muslim. Menurutnya, Paty adalah martir karena mengajarkan kebebasan berpendapat.

Macron kemudian memantik perdebatan setelah menyampaikan pernyataan pada Jumat (23/10). Dia mengatakan Islam adalah “agama yang mengalami krisis di seluruh dunia”.

“Sekulerisme adalah pengikat persatuan Prancis. Jangan biarkan kita masuk ke dalam perangkap yang disiapkan oleh kelompok ekstremis, yang bertujuan melakukan stigmatisasi terhadap seluruh Muslim,” ujar Macron.

Gelagat Macron tersebut menuai kecaman dari berbagai negara. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menilai Macron perlu memeriksa kesehatan jiwanya.

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan juga angkat suara. Dia menuding Macron, “menyerang Islam” akibat pernyataan tersebut.

“Sangat disayangkan bahwa dia memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih, atau ideologi Nazi,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here