Demokrat Menilai Marzuki Mencla-mencle Setelah Batal Gugat AHY

  • Bagikan

Jakarta, KabarBerita.id — Deputi Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Kamhar Lakumani menilai Marzuki Alie dan lima mantan kader Demokrat lainnya mencla-mencle usai mencabut mencabut gugatan terhadap Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
“Jadi ada kontradiksi dan mencla-mencle,” kata Kamhar dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (25/3).

Kamhar menilai kemungkinan Marzuki cs telah menyadari bahwa sengketa dalam parpol sudah sepatutnya menjadi domain mahkamah partai. Penyelesaian lewat mahkamah partai itu, kata Kamhar sesuai yang diatur dalam UU Nomor 2 tahun 2011 tentang Partai Politik.

Ia juga menilai argumentasi yang dibangun Marzuki Alie cs mencabut gugatannya karena kepengurusan AHY sudah demisioner adalah keliru. Sebab, pernyataan tersebut bertentangan dengan tindakan mereka yang melayangkan gugatan justru setelah kegiatan KLB Deli Serdang berakhir.

“Tapi kami menghargai langkah hukum yang ditempuh Marzukie Alie dkk untuk mencabut gugatan terhadap AHY di Pengadilan Jakpus,” kata Kamhar.

Selain itu, Kamhar menilai seharusnya para kader dan masyarakat bisa memahami bahwa Marzuki Alie cs bukan siapa-siapa tanpa andil dari Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY, kata dia, sudah memberikan kesempatan bagi Marzuki Alie untuk menduduki jabatan strategis sebagai Ketua DPR. Marzuki sendiri pernah menjabat sebagai Ketua DPR-RI periode 2009-2014 lalu.

“Tanpa Marzuki Alie, Pak SBY tetap terpilih sebagai Presiden di 2004 dan 2009, demikian pula capaian Partai Demokrat. Jadi dia bukan variabel penting,” kata dia.

Tak hanya itu, Kamhar juga menyinggung bahwa perhelatan Kongres Partai Demokrat tahun 2015 lalu SBY dipilih secara aklamasi oleh para peserta. Ia menegaskan tak mungkin para kader Demokrat memberikan kepercayaan bagi Marzuki untuk memimpin Demokrat yang berpredikat gagal untuk lolos ke Senayan pada Pemilu 2014 lalu.

“Jadi Marzuki Alie kehilangan legitimasi politik dengan sendirinya. Tak mungkin kader memberi kepercayaan kepadanya menjadi Ketum,” tambahnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan