Curhat Atlet Peraih Emas SEA Games Bayar Akomodasi Sendiri Viral, ini Tanggapan Kemenpora

  • Bagikan
Atlet putri Indonesia Eki Febri Ekawati menggigit medali emas nomor tolak peluru putri SEA Games XXIX Kuala Lumpur di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (25/8) malam. Eki menyabet medali emas dengan lemparan terbaik yaitu 15,39 meter. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc/17.
Atlet putri Indonesia Eki Febri Ekawati menggigit medali emas nomor tolak peluru putri SEA Games XXIX Kuala Lumpur di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (25/8) malam. Eki menyabet medali emas dengan lemparan terbaik yaitu 15,39 meter. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc/17.

JAKARTA, Kabarberita.id – Curahan hati atlet tolak peluru putri Indonesia, Eki Febri Ekawati, menjadi viral di media sosial. Eki Febri mengaku belum mendapat uang makan dan akomodasi selama persiapan SEA Games 2017. Eki Febri merupakan salah satu peraih medali emas untuk Indonesia di ajang SEA Games 2017. Pada Jumat (25/8), Eki Febri meraih emas dari cabang tolak peluru dengan catatan lemparan 15,39 meter.

Melalui akun Instagram pribadinya, @ekifebrie, atlet 25 tahun itu mengeluhkan birokrasi olahraga di Indonesia. Pasalnya, Eki Febri mengaku harus membayar makan dan akomodasi sendiri selama persiapan SEA Games 2017. “Saya atlet peraih emas SEA Games 2017. Uang akomodasi (makan, penginapan, dll) belum juga dibayar dari bulan Januari-Agustus. Padahal SEA Games sudah hampir selesai. Gimana mau maju? Birokrasi dan sistem olahraga di Indonesia yang ribet,” tulis Eki Febri melalui Instagram.

Menanggapi curhatan Eki Febri, pihak Kemenpora melalui Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto mengaku terkejut. Gatot mengatakan pihaknya akan segera melakukan penelurusan di dalam internal Kemenpora.“Terkait nasib atlet tolak peluru Eki Febri yang telah mendapat medali emas di SEA Games 2017, kami atas nama Kemenpora menyampaikan apresiasi atas prestasi medali emas yang telah diperolehnya,” ujar Gatot.

“Namun, kami mohon maaf atas kejadian bahwa yang bersangkutan belum menerima dana akomodasi sejak Januari 2017.  Kami tentu saja sangat terkejut dengan kejadian tersebut, dan untuk itu sedang kami telusuri di internal Kemenpora mengapa hal tersebut sampai terjadi,” sambungnya.

Lebih lanjut, Gatot tidak memungkiri masalah akomodasi atlet memang sedikit terlambat. Hal itu salah satunya dikarenakan anggaran Kemenpora baru cair sepenuhnya pada April 2017.“Kami akui dalam beberapa bulan terakhir ini, ada persoalan terkait honor, peralatan, akomodasi dan try out atlet-atlet Prima. Satu per satu sudah mulai terurai sejak Mei 2017 mulai dari honor atlet, kemudian sebagian try out di bulan Juni 2017 dan peralatan di bulan Juli 2017,”pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *