‘Cepat Sekali Kejadiannya, Tahu-tahu Longsor’

  • Bagikan

Kediri, KabarBerita.id — Nyeri sekujur tubuh masih dirasakan Yuli (32 tahun). Material longsor berupa tanah bercampur air menenggelamkan tubuhnya saat musibah itu terjadi di desanya, Dusun Seloporo, Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Kediri. Jawa Timur, Ahad (14/2) malam. Yuli ingat betul, saat itu dirinya sedang istirahat bersama anak sulungnya di ruang belakang rumah.

Hujan yang turun semenjak siang membuatnya enggan untuk keluar rumah. Hamil tua menjadikannya harus ekstra menjaga kandungan. Namun, hujan deras kali ini rupanya berbeda.

Hujan deras membawa bencana tanah longsor, menyapu rumah yang ditinggalinya dengan keluarga. Bahkan, nyawanya pun hampir tak selamat. Tanah bercampur air menutupi tubuhnya hingga dada. Perutnya yang hamil besar pun sebisa mungkin dijaga dari reruntuhan material tanah longsor.

Sementara, ia tidak tahu bagaimana nasib anaknya. “Saat itu cepat sekali kejadiannya, tahu-tahu longsor,” katanya sambil menahan sakit, Selasa (16/2). Hartini (30), adik Yuli, menyambung kisah malam nahas itu mengatakan, beruntung nyawa saudaranya bisa selamat. Anak pertamanya pun juga selamat.

Saat kejadian, si anak berlindung di bawah meja, hingga luput dari tumpukan tanah longsor. Dia menceritakan, seketika kemenakannya itu langsung mencari ibunya ketika dirasa longsor sudah berhenti. Listrik padam membuat pencarian tambah susah. Beruntung, akhirnya ketemu juga. Saudaranya juga masih diberi kesempatan hidup sehingga cepat ditemukan.

Yuli memang masih merasakan nyeri-nyeri di tubuh. Bagian paha terkena paku dan saat kejadian tubuhnya tertimpa material tanah. Namun, ia senang kandungannya dinyatakan sehat. Anggota tubuh Yuli yang sempat terkena paku juga sudah diobati petugas medis.

“Dijahit karena tubuhnya kena paku. Alhamdulillah kandungan juga aman, ini sudah delapan bulan,” ujar Hartini sambil memandang tubuh kakaknya di ruang perawatan Puskesmas Ngetos. Suami Yuli saat kejadian sedang ke luar desa, sehingga ia pun selamat.

Nasib beruntung juga dialami si kembar, Jofansa dan Jofinsa (6). Si kembar ini saat kejadian sedang bermain di rumah temannya. Ibundanya, Fatim, sedang membersihkan rumah karena air meluber masuk.

Ya, saat itu hujan deras turun sejak siang hingga malam. Mbah Yatemi (52) mengatakan, kedua cucunya ini tinggal dengan dua orang tuanya. Saat kejadian, hanya ada ibu si kembar, Fatim, yang di dalam rumah. Sedangkan, suami Fatim sedang ke luar rumah.

Nahas, tanah longsor itu membuat rumah cucunya rata dengan tanah. Hingga kemudian, Fatim dinyatakan hilang. Ia bersyukur kedua cucunya selamat. Namun, kesedihan Mbah Yatemi tak dapat ditutupi, begitu juga kedua cucunya. Murung wajahnya.

Mereka tahu jika ibundanya meninggal dunia. Jenazah sudah berhasil ditemukan pada Senin (15/2) dan dimakamkan di tempat pemakaman desa. Si kembar juga lebih banyak diam dalam gendongan nenek dan bibinya. Sang ayah juga sedih. Ia langsung memeluk keduanya setelah tiba di tempat pengungsian.

Hingga Selasa (16/2), sudah ada 14 korban yang ditemukan. Sebanyak 12 korban meninggal dan dua korban lainnya dalam kondisi selamat. Masih ada tujuh korban yang dinyatakan hilang dan terus dilakukan pencarian. “Karena laporan yang tercatat total korban yang hilang 21 orang,” ujar Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Surabaya, I Wayan Suyatna, Selasa.

Tiga korban ditemukan tim gabungan pada Selasa (17/2). Ketiganya ditemukan keadaan meninggal dunia. Sekitar pukul 10.40 WIB ditemukan satu korban wanita dan satu korban anak laki-laki dalam keadaan meninggal dunia pada area pencarian di sektor utara.

“Kemudian pukul 11.20 WIB, ditemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan meninggal dunia pada area pencarian di sektor utara juga,” ujarnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan