Bank NTB Syariah Terbaik di Nasional Tembus Penghargaan Regional

  • Bagikan

Jakarta, KabarBerita.id — Bank NTB Syariah kembali berhasil mendapatkan predikat terbaik dalam “Infobank Sharia Finance Institution Awards 2021” kategori Bank Umum Syariah (BUS).

Bank NTB Syariah berada di peringkat pertama sementara berturut Bank BCA Syariah, Bank Aceh Syariah dan Bank Mega Syariah.

Direktur Biro Riset Infobank Eko B. Supriyanto mengatakan pemberian penghargaan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Biro Riset Infobank (birI).

“Penilaian terhadap institusi keuangan syariah dilakukan pada dua kinerja keuangan dengan menggunakan empat pendekatan, yakni rasio keuangan penting, pertumbuhan, good corporate governance, dan profil risiko,” ungkap Eko.

Dikutip dari Majalah Infobank, Bank NTB Syariah menutup tahun kerja 2020 dengan baik. Sejumlah kinerja keuangannya membiru.

Berdasarkan data, pembiayaan Bank NTB Syariah tahun lalu tumbuh 14,85 persen secara tahunan atau menjadi Rp 6,41 Triliun. Dana pihak ketiga naik 8,69 persen atau menjadi Rp 7,41 Triliun. Aset Bank NTB Syariah juga meningkat pesan 20,59 persen atau dari Rp 8,64 Triliun pada 2019 menjadi RP 10,42 Triliun.

Direktur Utama Bank NTB Syariah Kukuh Rahardjo bersyukur dengan capaian Bank NTB Syariah tersebut.

“Alhamdulillah atas anugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Bank NTB Syariah dapat mencatat kinerja yang baik di Tahun 2020 dan mendapat predikat “Sangat Bagus” serta menjadi terdepan diantara Bank Umum Syariah (BUS) kategori Buku 2 dalam Rating Institusi Keuangan Syariah versi Infobank,” ujar Kukuh.

Kukuh menambahkan, berhasilnya kinerja Bank NTB Syariah tersebut berkat dukungan dari seluruh pihak di NTB.

“Prestasi ini dapat tercapai semata-mata berkat dukungan, sinergi, dan doa dari seluruh stakeholder dan masyarakat Nusa Tenggara Barat tentunya,” terang Kukuh.

Sebelumnya Bank NTB Syariah juga mendapatkan penghargaan dalam ajang bergengsi TOP BUMD Awards 2020.

Tak tanggung-tanggung, Bank NTB Syariah memperoleh tiga penghargaan sekaligus. Ketiga penghargaan itu antara lain TOP Pembina BUMD 2020 kepada Gubernur DR. H. Zulkieflimansyah, TOP BUMD Awards 2020 # BPD # Bintang 4 kepada Bank NTB Syariah, dan TOP CEO BUMD 2020 untuk Direktur Utama Bank NTB Syariah H. Kukuh Rahardjo.

Penghargaan ini menurut Kukuh, akan semakin memacu semangat seluruh insan Bank NTB Syariah untuk bekerja maksimal, memberikan yang terbaik, serta menghadirkan beragam terobosan kreatif dan inovatif, dalam memberikan layanan kepada seluruh nasabah dan stakeholder NTB Syariah serta meningkatkan performa usaha.

Terlebih, ditambahkan Kukuh, penghargaan ini diberikan atas penilaian juri yang merupakan tokoh-tokoh kredibel dari berbagai bidang, diantaranya akademisi, pakar manajemen, praktisi dunia usaha, hingga konsultan bisnis dengan melakukan beberapa tahapan assessment diikuti oleh 200 nominasi BUMD Terbaik yang sebelumnya sudah diseleksi dari lebih 1.149 BUMD di seluruh Indonesia.

Bank NTB Syariah juga mulai eksis di regional Asia Tenggara. Bank NTB Syariah berada di posisi 14 bank syariah terkuat di ASEAN berdasarkan evaluasi neraca 2020 oleh The Asian Banker merilis.

The Asian Banker menjelaskan, pemberian peringkat ini bertujuan untuk membantu bank dan perusahaan dalam melihat kualitas lembaga untuk tujuan transaksi kredit dan keuangan.

Penilaian tersebut mencakup enam bidang kinerja neraca keuangan, yaitu: kemampuan skala, pertumbuhan neraca, profil resiko, profitabilitas, kualitas aset dan liquiditas.

“Kriteria evaluasi ini ditetapkan berdasarkan penilaian kuantitatif secara cermat atas kinerja keuangan bank di daerah yang kami cakup selama tahun laporan,” kata Direktur utama Bank NTB Syariah H Kukuh Raharjo.

Lebih lanjut, dikatakan pihaknya mengevaluasi kinerja melalui enam indikator penting yang dibobotkan berdasarkan kepentingan relatifnya: pertama, skala asset bank terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kedua, pertumbuhan neraca pinjaman dan simpanan bersih, ketiga, manajemen resiko operasional bank, keempat, profitilitas dan keberlanjutannya.

“Kelima kekuatan dan kredibilitas pinjaman yang disalurkan, dan yang keenam, likuiditas aset untuk menghadapi kejadian buruk yang membutuhkan arus kas keluar,” jelasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan