Bahaya Kebiasaan Bertukar Pakaian: Waspadai Potensi Terkena Kurap

Jakarta, KabarBerita.id — Bertukar pakaian dan jilbab dengan orang lain, meskipun kelihatan tidak berbahaya, sebenarnya bisa meningkatkan risiko terkena penyakit kurap yang disebabkan oleh infeksi jamur.

 

Menurut penjelasan Eliza Miranda, seorang dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, kebiasaan ini bisa memperbesar risiko penularan kurap karena jamur penyebabnya dapat tersebar melalui berbagai media seperti sprei, handuk, hewan peliharaan berbulu, bahkan tanah.

 

Infeksi jamur pada kulit biasanya muncul setelah seseorang sering bertukar pakaian, termasuk handuk, celana, dan kerudung, baik dengan anggota keluarga, teman, atau rekan kerja. Jamur ini cenderung berkembang di area-area dengan lipatan kulit seperti selangkangan, dan dapat menyebabkan kulit bersisik atau bahkan rontoknya rambut di area tertentu jika terjadi infeksi di sekitar rambut.

 

Eliza juga menekankan bahwa penggunaan bersama-sama sisir atau kerudung dengan orang lain juga dapat memperbesar risiko penularan kurap.

 

Gejala kurap meliputi pola berbentuk cincin pada kulit, yang disertai gatal intens. Biasanya gejala ini muncul sekitar 4-14 hari setelah kulit terpapar jamur penyebabnya. Pengobatannya umumnya melibatkan penggunaan salep yang tersedia secara bebas atau dengan resep dokter.

 

Untuk mencegah penularan kurap, penting untuk menghindari kebiasaan bertukar pakaian dengan orang lain secara langsung. Mengetahui gejala-gejalanya juga sangat penting agar bisa segera mendapatkan pengobatan yang tepat jika terkena kurap.

 

Dengan demikian, memperhatikan kebersihan pribadi dan menghindari praktek-praktek yang meningkatkan risiko infeksi jamur seperti bertukar pakaian dapat membantu melindungi diri dari masalah kesehatan yang tidak diinginkan ini.

Tinggalkan Balasan