Alasan Suporter Badminton Lebih Fanatik Dibanding Sepak Bola

  • Bagikan

Jakarta, KabarBerita.id — Kasus yang menimpa tim badminton Indonesia di All England 2021 menyadarkan publik bahwa sesungguhnya fan di olahraga tepok bulu itu jauh lebih fanatik dibanding fan sepak bola.
Bagaimana tidak, fan badminton bahkan berani untuk memberikan ancaman menakutkan kepada Badminton World Federation (BWF). Seolah tak mau para idolanya di badminton tersakiti, mereka menjadi garda terdepan yang siap membela mati-matian.

Bahkan, pengamat hukum olahraga nasional, Eko Noer Kristyanto alias Eko Maung media sosialnya digeruduk netizen yang juga fan badminton usai melontarkan pernyataan sinis terkait tim badminton Indonesia di All England. Eko Maung mengakui jika fan badminton ini beda sama di sepak bola.

“Kalau di bola terpecah klubnya, tapi kalau badminton kan energinya satu jadi ramai ya. Yang saya tidak duga itu, secara kuantitas banyak, biasanya mereka gabungan fan K-Pop dan BL [badminton lovers]. Keganasan netizen sepak bola tidak ada apa-apanya dibanding BL,” sebut Eko Maung, Kamis (25/3).

Melihat fenomena tersebut, sosiolog olahraga Yosef Hilarius mengatakan ada tiga poin yang membuat perbedaan nyata fanatisme fan badminton dan sepak bola.

“Pertama, di Indonesia badminton ini punya basis masa yang bisa meliputi satu Indonesia. Tapi kalau di sepak bola, basis masanya masih kedaerahan atau terfragmentasi sesuai asal daerah klubnya,” kata Yosef, Jumat (26/3).

Misalnya, jelas Yosef, fan Persib Bandung akan lebih banyak bersuara ketika ada isu atau berita soal klub itu sendiri. Sekalipun terkait Timnas Indonesia, biasanya juga harus menyangkut pemain yang berasal dari klub yang mereka idolakan tersebut.

Beda halnya dengan fan badminton yang tidak terfragmentasi oleh daerah. Sekalipun seorang pebulutangkis, sebutlah Greysia Polii, berasal dari Manado, yang bersuara terkait pemain ganda putri itu tidak hanya orang Manado tapi lebih luas lagi.

“Kedua, memang badminton itu jauh lebih mentereng sebagai olahraga andalan Indonesia dibanding sepak bola. Badminton olahraga yang bisa dibanggakan netizen di level internasional,” ujarnya.

Selain itu, para atlet badminton jauh lebih sering membuat masyarakat bangga dengan prestasinya ketimbang sepak bola yang bisa disebut jauh dari prestasi.

“Ketiga, para atlet badminton ini masing-masing punya akun media sosial yang memang dekat dengan netizen, seperti Praveen Jordan, Greysia Polii, Kevin Sanjaya, Jonatan Christie. Sebenarnya sepak bola juga begitu, tapi fan badminton ini tidak melihat sisi kedaerahan, sehingga tidak terfragmentasi.”

“Apalagi kasus di All England buat saya BWF kacau sekali tata kelolanya. Jadi wajar saja kalau netizen sangat merasa marah dan kesal. Badminton Indonesia ini punya nama di internasional, apalagi pemainnya semuanya ya menunjukkan kekecewaan mereka di media sosial yang membuat fan mereka juga ikut merasakan,” jelas Yosef.

Lebih lanjut, Yosef menyebut badminton dan sepak bola tidak bisa dibandingkan secara apple to apple. Tak bisa dimungkiri tidak terfragmentasinya fan badminton membuat fanatisme mereka jauh lebih besar dibanding fan sepak bola.

“Dari segi segmentasi pendukung di media sosial, saya juga melihat pendukung badminton Indonesia khususnya berada di usia yang memainkan media sosial. Kalau sepak bola batas usianya lebih besar dan ada kemungkinan batas usianya masuk mereka yang tidak aktif di media sosial,” ungkapnya.

Soal irisan fan badminton dan K-Pop, Yosef memungkinkan ada kaitan namun secara data ia belum bisa memastikannya.

“Tapi saya menduga, fan K-Pop dan badminton sama-sama generasi Z sehingga kemungkinan ada irisan. Biasanya, penggemar K-Pop suka pria muda, sukses, ganteng dan itu ada di profil pebulutangkis kita, Marcus, Kevin, Jojo, Ginting. Kalau dikaitkan ada kemungkinan, karena mereka punya basis pendukung sendiri dan aktif di media sosial,” terang Yosef.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan