Alasan LSM di Manado Organisir Penolakan Film 212

Mando, KabarBerita.id — Avis Metriko Sumilat, Ketua Umum Makatana Minahasa, membenarkan penolakan film 212 di bioskop-bioskop Manado. Salah satu alasannya memang terkait muatan film tersebut.

Riko menyebut bahwa film menggunakan konteks “Aksi Bela Islam” pada 2016 secara langsung dan karena itu dinilai berpotensi punya dampak politik.

“Awalnya kami menolak karena judul filmnya 212, The Power of Love. Kami melihat di sini, kita sudah lihat trailer, dan trailernya tetap memakai aksi 212 sebagai bagian film tersebut. Jadi film tersebut mengambil bagian dari aksi 212,” ucap Riko.

Ia mengkhawatirkan muatan dalam film itu bisa berpengaruh di Manado.  “Kota Manado ini, kan, kota toleran, kota nomor satu tolerannya. Kami gak mau paham-paham yang nantinya disampaikan di film itu. Film itu sudah dikemas baik, yang saya tahu itu sudah dikemas dengan baik, tapi sebenarnya pesannya di situ-situ juga [soal aksi Bela Islam],” lanjut Riko.

Saat ditanya ormas apa saja yang turut serta dalam aksi tersebut, Riko menjawab ada Makatana Minahasa, Brigade Manguni, Ormas Kristen Laskar Benteng Indonesia, Paspamnas.

Gabungan ormas adat di Manado itu kemudian datang ke bioskop untuk meminta klarifikasi apa benar film 212 sudah dihentikan penayangannya di bioskop.

“Kami hanya mengklarifikasi. Kami lihat di Minahasa, Manado, terjadi penolakan oleh masyarakat. Tapi mereka, kan, gak mungkin bergerak sendiri-sendiri, dan kami memutuskan untuk [mewakili] aspirasi-aspirasi masyarakat Minahasa sebagian besar, masyarakat Minahasa atau Manado, dengan mengklarifikasi untuk memastikan film itu sudah tidak akan diputar,” tegas dia.

Dia juga menyebut bahwa film itu memang pernah diputar karena ada permintaan dari penonton tertentu. Mereka tidak mempermasalahkan pemuataran yang sudah terjadi. Namun, mereka meminta film 212 tidak akan dijadwalkan lagi untuk diputar di Manado.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here